Monday, 17 December 2018

MENGANGKAT KOPI MEDAN YANG KEKINIAN


Apa kata bunga.

Oke, seandainya ada yang tanya soal kota Medan sama kamu, kira-kira kamu jawab apa?
Mungkin rata-rata orang akan menjawab, kearifan lokalnya, heritagenya, atau kulinernya. Nah, kalau kuliner Kota Medan juga banyak macamnya, tapi yang paling cepat orang menjawab ya.. duriannya ya khan...

Selain durian dan kuliner lain yang macamnya seabreg-abreg itu, kini Medan juga mulai terkenal dengan geliat kopinya. What?! Sejak kapan Medan punya kebun kopi?

Medan Kota Kopi
What?! Sejak kapan Medan punya kebun kopi?
Hehehe.. Kota Medan memang tidak punya kebun kopi, tapi aneka kedai/warung/kafe/restoran kopi sudah menjamur di seantero kota Medan. Kok bisa ya? Sebelum menjawab pertanyaan itu, yuk kita menilik sebentar ke negeri seberang Kota Medan yakni Aceh.

Negeri serambi mekah ini merupakan penghasil kopi terbesar di Indonesia maka tidak heran jika 'ngopi' sudah menjadi budaya di sana. Tapi taukah kamu jika ingin mengirim biji-biji kopi tersebut, para pedagang kopi Aceh harus melewati Kota Medan sebagai pintu gerbang pengiriman kopi-kopi tersebut ke luar negeri?

Nah, mari kita bergeser lagi ke ke daerah pelosok sumatera utara. Banyak daerah yang dikenal sebagai penghasil kopi. Sebut saja Mandailing, Lintong dan sebagainya. Semua biji kopi berkualitas tinggi ini berangkat dari daerahnya masing-masing dan bertemu dengan sesamanya di Kota Medan. Jadi tidak heran jika berbagai macam jenis kopi dengan mudah dapat ditemukan di Kota Medan.

Hali tersebut pun setali tiga uang dengan kebiasaan warga Medan yang gemar ngopi, maka tak heran jika kedai kopi dengan mudah tumbuh subur seantero kota. Berdasarkan pemahaman ini, maka sudah pantaslah kota awak tercinta ini juga disebut sebagai kota kopi.

Wokeh lanjut.

Saya sendiri merupakan penggemar kopi. Saya lebih menggemari kopi ketimbang teh. Tapi dua-duanya saya suka, tergantung mood dan suhu udara saja (Apa hubungannya). Tapi saya bukanlah pecandu kopi. Jadi, saya bukan termasuk kelompok kopipers yang mendiskreditkan orang sesuai dengan jenis kopi yang diminumnya.

Kalau ketemu sama orang yang bilang kalau kopi sachet bukanlah kopi, ya, saya manggut-manggut saja. Kalau ketemu dengan orang yang langsung pusing dan gak bisa tidur semalaman ketika minum esspresso ya saya pun senyum-senyum saja. Bahkan seandainya saya ketemu dengan orang yang bisa membaca karakter orang hanya dengan melihat cara orang tersebut minum kopi, ya saya minta tandatangannya. (Colek andrea Hirata).

Jadi begitulah awal mula kisah terjadinya Medan kota kopi (perasaan lagi dongeng). Jadi kalau punya saudara dari luar kota, ya jangan cuma dibawa makan duren di ucok atau sibolang, tapi ajak juga minum kopi di Durkoff Cafe. Heeeh? Apaan ituu..

Ngopi Kekinian Ala Anak Medan


Beberapa tahun belakangan ini Medan memang sedang pesat-pesatnya. Sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia, Medan seolah tak ingin tertinggal lebih jauh dengan kota-kota besar lainnya. Beragam kultur dan budaya serta trend kekinian tak luput menyambangi kota multietnis ini. Begitupula di dunia kuliner. Invasi kue dan bolu artis yang notabene merupakan akulturasi resep luar negeri ke kota Medan nayatanya tak mampu menggeser kearifan lokalnya, khususnya di bidang kuliner. Tapi, bukan berarti warga Medan anti dengan kuliner yang bersifat baru atau kekinian, hal ini dibuktikan dengan semakin maraknya inovasi bidang kuliner di kota Medan salah satunya adalah kopi.


Menyambung wacana di atas, intinya adalah kini di Kota Medan telah hadir inovasi baru dalam sajian kopi. Tidak melulu kopi ulee kareng atau sanger, kini warga Medan pun bisa menikmati sajian kopi yang dicampur dengan aneka varian buah serta berbagai macam menu menarik lainnya.

Durkoff Cafe

Yuk, simak video berikut ini :

Berlokasi di jalan Gagak Hitam atau Ringroad Nomor 82 Medan, durkoff cafe  mengusung konsep kopi dalam sajian dan dekorasi ruangannya. Kafe yang baru berdiri Oktober 2018 silam menawarkan sensasi baru dalam 'ngopi' tidak hanya dalam bentuk minuman, aneka makanan bertema kopi juga menjadi andalan kafe ini.

Nama durkoff sendiri ternyata singkatan dari durian koffie yang merupakan salah satu menu andalan disini. Durian coffee disajikan dingin, lengkap dengan daging durian serta topping es krim. Harga yang dibanderol juga sangat murah, hanya Rp. 18.000,- per gelas. Meski murah, sensasi rasa yang ditawarkan tidak murahan, banyak pengunjung kafe merupakan anak muda yang baru belajar menyukai kopi. Disini mereka jadi memiliki banyak pilihan. mulai dari kopi ala pecandu berat seperti espresso, sanger atau americano hingga yang kekinian seperti durian coffee, strawberry coffee dan avocado coffee.

Tidak hanya makanan dan minuman, suasana cafe juga disesuaikan dengan target pengunjung. Tersedia ruangan merokok yang luas (indoor dan outdoor) serta ruangan ber-AC yang nyaman. Banyak mural-mural kekinian di dinding bagi pecinta foto. Taman yang asri serta lampu-lampu di pepohonan menambah semarak suasana ketika berkunjung di malam hari. Tidak hanya itu, aneka permainan papan juga menambah keseruan menghabiskan waktu berlama-lama di kafe ini.



Penutup
Sebagai warga Medan, sudah selayaknya kita bangga serta turut memberi sumbangsih positif bagi kemajuan Kota ini. Tidak hanya itu, kini setiap keluar kota ataupun tiap bertemu dengan orang baru, kita bisa dengan bangga mengatakan bahwa Medan adalah kota Durian dan juga Kota Kopi. Durkoff Cafe dengan segala keunikannya, membuat dua ikon kuliner kota Medan bersatu di satu tempat. Sehingga semakin memperkaya khasanah kuliner di Kota ini. Luv!